Kamis, 08 Oktober 2015

Berselancar Bersama Ibnu Hisyam, Mengarungi Samudera Kehidupan Nabi Muhammad SAW.[1]



Judul Buku   : Sirah An Nabawiyah
Penulis         : Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub Al-Humairy
Penerbit        : Dar Al-Marefah, Beirut - Lebanon
Cetakan        : Cetakan ke-8
Tahun Terbit : 1433 H / 2012 M
Tebal Buku   : 4 jilid
Jumlah Halaman : 1238 halaman



Sabtu, 01 Agustus 2015

WAHAI HATI



hitam dan putih
sedih dan bahagia
sakit dan sehat
damai dan terusik
sendiri dan bersama
pergi dan tinggal
hari ini, kemarin dan besok
bukan kah semua itu biasa?
bukankah hal hal itu yang menemanimu selama ini?
wahai hati, kenapa masih saja kau bimbang?
kenapa masih saja kau gentar?
kenapa susah sekali kau tegar?!
longgarkan dirimu untuk hal hal itu sehingga kau bahagia
ikhlaskan segala yang tak kau miliki
syukuri segala hal yang kau genggam
wahai hati.. ingatkah siapa pemilikmu?
YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSABIT QOLBY ALA DIINIK

Jumat, 17 Juli 2015

Ramadhan Bersamamu



Rasanya baru kemarin aku menyambut bulan ini. Bulan yang ditunggu semua umat-Mu. Bulan yang membawa berkah untuk siapapun tanpa terkecuali.

Aku masih ingat, untuk mengenalmu di bulan syawal tahun lalu aku harus melewati hal- hal yang sangat menyakitkan di ramadhanku (mungkin ini terlalu berlebihan) tapi itulah kenyataannya. Lebih dari seminggu aku menangis karena hal yang telah menyakiti hatiku, meruntuhkan harapanku, melumpuhkan semangatku. Aku menangis dan terus menangis rasanya tak akan ada hal yang bisa membuatku tersenyum lagi. Tanpa menyadari bahwa Allah selalu memenuhi janji-Nya, janji bahwa sesungguhnya dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah air mata pasti akan merekahlah senyuman. 

Jumat, 03 Juli 2015

Cinta ini Untuk Mu



Pagi ini langit agak gelap tertutup kabut, mata ku belum bisa ku pejam kan sejak semalam. Ku lihat jejeran angka di pojok kiri layar laptopku menunjukkan pukul 5:45 CLT (cairo limited time). Pikiran ku masih melayang entah kemana, tatapan ku kosong, hati ku berdetak tak beraturan entah irama apa yang kali ini ia mainkan. Tak lama aku mulai tersadar dengan suara seseorang yang sudah lama tak ku dengar, suara khas nya yang sering membuatku rindu untuk selalu mendengar semua kata-kata hikmah kehidupan darinya, papa ku. Sudah lebih dari sejam aku menelpon papa, bertanya, berkonsultasi dan meminta nasihat tentang arti sebuah kata ‘cinta’ yang sedang tumbuh dan mekar dalam hati ku. Aku menceritakan padanya tentang sosok perempuan berkrudung hijau yang kerap kali berlari-lari dalam pikiranku, menghiasi alam bawah sadar ku dan yang mana akhir-akhir ini ku akui bahwa aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. 

3 Agustus 2014, Sebuah Perkenalan



3 agustus 2014 merupakan tanggal bersejarah buat kami. Saat dimana awal mula kami mengenal satu sama lain, awal dimana mulai terjalin komunikasi antara kami, awal yang mengantarkan perasaanku pada nya, awal dimana sebuah hubungan mulai tumbuh dan berkembang. Walau aku mengenalnya dan mengaguminya bertahun-tahun lama nya tapi aku tetaplah sosok baru dalam hidupnya. Ia tak pernah sadar siapa yang memperhatikannya saat ia tertawa, tersenyum bersama teman-temannya saat disekolah, ia tak pernah tahu siapakah gerangan yang sedang duduk bersimpuh diruang tamu rumah abah mukhlas saat ia sedang mau keluar rumah, bahkan mungkin ia tak pernah menyadarinya siapa salah satu diantara ketiga pemuda yang datang berkunjung ke rumah kakeknya disaat akhir tahun ajaran 2010 lalu.

Syihabuddin Al Qarafi, Cendekiawan Mesir Penemu Asli Teori Pelangi



Ahmad bin Idris bin Abdurrahman Abu al Abbas yang lebih dikenal dengan sebutan Syihabuddin Al Qarafi Al Shonhaji Al Bahnasy, seorang cendikiawan ternama yang lahir sekitar pertengahan abad ke-7 hijriyah dari desa bahnasa yang terletak dibagian barat sungai nil, mesir. Beliau berasal dari kabilah sanhaja salah satu kabilah barbar dari maroko, yang telah lama menetap di bumi kinanah ini. Sedangkan sebutan al qarafi disematkan padanya, berasal dari nama sebuah tempat yang bersebelahan dengan makam imam Syafi’i yang mana pada suatu hari beliau, syihabuddin, berangkat terburu-buru ke madrasah untuk menuntut ilmu melewati tempat tersebut karena beliau sudah terlambat. Ketika sampai, sekretaris yang menulis semua nama pada absen hadir lupa akan nama beliau. Lalu sang sekretaris tersebut menulis al qarafi sebagai ganti nama syihabuddin dalam absen dikarenakan arah datangnya beliau. Karena itulah beliau terkenal dengan sebutan al qarafi.

Minggu, 05 April 2015

Adzan Asharku



Aku terbangun dari tidur siangku, Mataku tak lekat dari layar laptopku. Kulihat kau yang masih terlelap. Kedua tanganmu kau letakan di bawah kepalamu, Itu gaya kesukaanmu sewaktu tidur, sama sepertiku.

Terdengar suara adzan Ashar yang begitu syahdu dari  mushola Al furqon yang terletak persis depan kamarku. Suara adzan bukanlah hal yang asing bagiku. Setiap hari aku bisa mendengarkannya. Tapi entah mengapa, Adzan kali ini benar – benar menusuk hatiku. Tak terasa air mata menetes deras. Tiba tiba tergambar jelas wajah bapa dan ibuku yang sangat kucintai lebih dari apapun di dunia ini. Terbayang wajah tua dan lelah bapa, tangan kasarnya, kulitnya yang hitam terbakar matahari. Ubanya yang mulai menyeluruh. Tatapan matanya yang begitu dalam. Kata - katanya yang begitu keramat bagiku. Kakinya yang penuh dengan kapal melangkah demi masa depan anak anaknya. Ingatannya yang mulai memudar termakan usia. Ia tak pernah meminta apapun dari kami anak anaknya, ia tak pernah menuntut apapun. ia tak pernah mengeluhkan apapun. walaupun aku tau, begitu besar harapannya padaku pada kami, begitu tinggi cita citanya agar aku lanjutkan. Ia utarakan dalam diam dan doa.

Selasa, 24 Maret 2015

:: L O V E ::

A : Aku tdk menyukai istriku lagi!

B : Pulang dan cintailah dia.

A : Anda tidak mengerti aku, aku sudah tidak punya perasaan itu lagi.

B : Pulang dan cintailah dia.

A : Tetapi secara emosi berarti tidak jujur kalau aku memperlakukan istriku seperti itu, padahal aku tidak merasakannya.

Selasa, 17 Maret 2015

Musibah Menimpa, Bidadari Mulai Melirik Diri Ku


2013, tahun dimana hidup ku mulai tak beraturan. Sosok yang dulu dikenal paling rajin diantara teman-teman yang lain. Rajin belajar, rajin berangkat kuliah atau rajin mengikuti pengajian dan acara-acara yang lain. Sosok yang selalu aktif dalam berbagai organisasi dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Senat, media kabar masisir, kekeluargaan Forum Al hikmah bahkan sempat ada keinginan untuk bergabung dalam organisasi pengurus Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Akan tetapi, ketika tahun ini datang, hilang semua semerbak harum keeksistensian ku dalam hidup ini. Tahun dimana aku harus mengulangi lima mata kuliah ku tahun lalu pada tahun ini, tahun dimana game adalah segala-galanya untuk mengubur diri ku yang mulai kehilangan arah, tahun dimana selalu ku dengar tangisan papa ku dari seberang laut sana dengan berbagai permasalahan yang ia curhatkan pada ku melalui telephon, dan tahun dimana nenek dan mama ku tercinta meninggalkan dunia ini tanpa sempat ku lihat wajahnya untuk terakhir kali, tanpa sempat ku bertegur sapa sama sekali, tanpa sempat aku meminta maaf padanya atas segala kesalahan, perdebatan dan semua hal yang pernah aku lakukan dan tanpa sempat pula ku ucapkan rasa terima kasih ku sekalipun pada nya karena sudah susah payah mau melahirkanku ke dunia ini dan merawat serta mendidikku hingga menjadi pribadi yang seperti ini. 

Jumat, 27 Februari 2015

Itu Seragam Buat Perjalanan Aja


Waktu tak pernah berhenti melaju, terus dan terus melangkah kedepan tak menghiraukan siapapun yang ia lewati. Kaya miskin, muda tua, orang baik ataupun orang jahat dan siapapun tanpa terkecuali ia lewati tanpa ada keraguan. Begitupun kehidupan ku ini, tak terasa sudah 2 tahun lebih aku merantau di negri orang. Negrinya para keturunan bangsa nabi Musa AS. dan raja fir’aun yang konon mayatnya masih utuh bersemayam di sebuah musium besar terkenal di negara ini, Mesir. Banyak hal terjadi selama 2 tahun terakhir ini, proses adaptasi yang cukup berat, kuliah yang cukup jauh saat tahun pertama, makan makanan orang daerah setempat yang rasanya tak terdefinisikan, kehilangan HP di bis bahkan sampai diusir pemilik rumah kontrakan saat terjadi revolusi mesir tanggal 27 januari 2011 lalu kalau tak salah, maklum aku tak pandai mengingat angka (hehe).

Selasa, 24 Februari 2015

Seperti Kemarin



Seperti kemarin
Ya rasanya seperti kemarin aku mengenalmu yang kaku
Membuka hatiku dan mempersilahkanmu mengisinya
Merasakan cinta yang kau tanam dalam hati ini
Melihat kesungguhanmu dan keyakinanmu

Minggu, 22 Februari 2015

Talking to myself "Don't be sad"

When you have nothing, yet your job is to share
Then?
Crying....
Screaming.....
Searching.......

Kita, Part I


Idul Fitri selalu menjadi bulan yang aku tunggu. Satu-satunya bulan yang mengumpulkan seluruh keluargaku yang terpisah, tanpa harus ada yang sakit, tanpa harus ada acara besar. Idul Fitri, selalu menjadi kenangan, kenangan bahagia masa kecilku yang tak akan pernah terulang, kenangan menggetirkan tentang “hampir kehilangan mama” –orang yang paling aku sayangi, kenangan mengharukan pertemuan sekaligus perpisahan sanak saudara, kenangan menyenangkan memiliki uang banyak –karena hanya di bulan ini aku bebas membeli jajan yang kusuka (hehe)- . Ya, aku selalu tak pernah kehabisan kata untuk menggambarkan Idul Fitri, karena sebagian besar pahit manis kehidupanku terjadi di bulan ini. Karena setiap idul Fitri aku merasa.....”aku telah lama menghuni bumi tua ini”.

Minggu, 15 Februari 2015

Kapan aku bisa bertemu dengannya?

Setiap malam aku memandang langit, berharap bulan dan bintang dapat menyampaikan salam rinduku
Setiap hujan turun aku amati rintiknya, gemricik airnya, ceria suaranya, aku berharap air membawakan salam rindunya untukku

Setiap angin berdesir, aku rasakan gerakan pepohonan, lambaian jilbab yang kukenakan, dingin yang menyentuh kulitku. Angin.... apakah kau bisa membawanya untukku? setidaknya, katakan padanya aku di sini menunggunya

Sabtu, 07 Februari 2015

Lulu Khumaeroh, Nama Ini Tak Kan Terlupakan



Sore itu mendung, tampak sebentar lagi akan turun hujan. Langit tampak mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala satu persatu. Aku berdiri terdiam tepat di depan GOR Al Hikmah 2, memandang ke langit, melihat sekeliling ku. Tanah ini akan menjadi sejarah, sejarah hidupku. Serasa semua kenangan selama 7 tahun ini kembali datang memenuhi hati dan pikiranku, ''pasti akan ku rindukan tempat ini'', batinku. Di depan mesjid An Nur, mesjid bersejarah dan penuh kenangan buat ku selama 7 tahun disini, ku lihat mobil avanza berwana putih, mobil yang papa sewa untuk menjemputku dari pondok. Karena kami tidak punya mobil, papa khusus menyewa mobil untuk menjemput ku sebab buku-buku ku cukup banyak dan bila diangkut dengan sepeda motor bisa sangat merepotkan. Tak jauh dari mobil itu ku lihat keluargaku yang sedang berkumpul di teras mesjid, terlihat ibu ku yang sejak tadi siang memeluk ade ku yang akan ditinggal selepasnya kami pergi dari pondok ini.

Minggu, 01 Februari 2015

Bagai Sang Katak mengharapkan Sang Rembulan



Genap sudah setahun lebih aku tak tahu kabarnya si perempuan berkerudung hijau itu. Hanya satu pertemuan membuatku selalu memikirkannya. Pikirku, mungkin ia seorang abdi dalem abah Mukhlas, karena setahu ku abah mukhlas hanya punya 2 anak dan keduanya masih kecil sekali. Semoga bila ada kesempatan, bisa bertemu dengannya di lain waktu.

Engkau, Hujanku



Aku bahagia bermain dengan hujan
Merasakan ramahnya air menyentuh kulitku
Sendunya langit yang mendamaikan
Rintik airnya yang berirama
Sambutan tanah yang bergairah
Indah
Sungguh indah

Sabtu, 31 Januari 2015

Langitku, Aku penggilamu




Aku, Si Penggila Langit
Beserta seluruh isinya, beserta seluruh hiasannya
Beserta Matahari yang sinarnya selalu ikhlas
Beserta Bulan yang cahanya menakjubkan
Beserta bintang yang kerlipnya mewarnai gelap
Beserta gelap yang setia pada malam
Beserta awan yang meneduhkan
Beserta hujan yang menghidupkan
Beserta petir yang gagah dan membangkitkan
Beserta birumu yang menyejukan

Si Kerudung Hijau

''Troeeet.... troeeet.... troeet..... troeeet.....'', terdengar bunyi terompet-terompet memekakkan telinga seraya memanggil tiap orang yang mendengarnya. Sontak seketika itu juga orang-orang ramai berkumpul di sepanjang pinggir jalan desa Benda, nama desa Pondok Pesantrenku. Aku dan puluhan santri yang saat itu sedang asyik-asyiknya menyantap makan sore kami di warben (warung benda-red) tak kalah penasarannya dengan penduduk desa yang saat itu ikut berkerubung memadati pinggir jalan. Dalam benak kami hanya terpikirkan 'apa gerangan bunyi-bunyi itu?'. Sebuah becak berisikan seorang pria dan wanita paruh baya duduk sambil tersenyum ke kanan dan ke kiri diiringi sekelompok orang yang membentuk sebuah formasi di tengah jalan sambil berjalan sedikit demi sedikit seakan mengatakan pada kami yang menonton mereka 'lihatlah kami'.