Jumat, 03 Juli 2015

3 Agustus 2014, Sebuah Perkenalan



3 agustus 2014 merupakan tanggal bersejarah buat kami. Saat dimana awal mula kami mengenal satu sama lain, awal dimana mulai terjalin komunikasi antara kami, awal yang mengantarkan perasaanku pada nya, awal dimana sebuah hubungan mulai tumbuh dan berkembang. Walau aku mengenalnya dan mengaguminya bertahun-tahun lama nya tapi aku tetaplah sosok baru dalam hidupnya. Ia tak pernah sadar siapa yang memperhatikannya saat ia tertawa, tersenyum bersama teman-temannya saat disekolah, ia tak pernah tahu siapakah gerangan yang sedang duduk bersimpuh diruang tamu rumah abah mukhlas saat ia sedang mau keluar rumah, bahkan mungkin ia tak pernah menyadarinya siapa salah satu diantara ketiga pemuda yang datang berkunjung ke rumah kakeknya disaat akhir tahun ajaran 2010 lalu.

Melihat senyumnya membuatku bahagia, memperhatikan perkembangannya bertahun-tahun walau hanya dari foto-fotonya membuatku tenang, dulu pernah bertatapan dengannya walau hanya sekali cukup menggetarkan hati ini. aku tak tahu pasti bagaimana hari-harinya selama ini, apa yang aku lihat itulah apa yang aku tahu sejauh ini. Berbagai macam bentuk kehidupan telah aku lewati, 11 tahun cukup untuk memberikan keberanian pada diriku untuk mengutarakan isi hatiku pada nya saat ini. Pada tanggal ini lah ku utarakan isi hati ku padanya. Tak tahu bagaimana ceritanya, semakin lama kami semakin akrab. Walaupun awal mulanya aku masih terlalu canggung untuk mengobrol dengannya, tapi waktu membuat kami mulai bisa terbiasa.

Dari hal yang disuka dan tidak disuka hingga bagaimana pandangan masa depan kami, masing-masing dari kami utarakan bersama. ‘’jangan menduakan ukhti, klo ingin berpoligami silahkan mencari perempuan lain’’, sebuah kalimat yang akan selalu ku ingat. Tak akan pernah aku dua kan dia, karena memang hanya ia yang ku cintai dalam diam, karena memang hanya dia yang mampu membuatku bertahan, karena memang hanya dia yang bener-bener aku harapkan. Tak berbeda dengannya, apa yang suka adalah ‘Kesetiaan’ dan yang tidak ku suka adalah ‘penghianatan’. Dengan mantap kami terus melangkah maju kedepan.

Seiring berjalannya waktu, sering aku terheran-heran sendiri. Apakah aku berada di dunia mimpi? Apakah aku sedang menghayal? Ketika ku dengan suaranya yang indah dari belahan bumi sana, ku perhatikan tiap kata-kata yang ia ucapkan, indah… indah sekali. Bahkan lebih indah dari lagu-lagu melo yang biasa ku dengar di hari-hari suntuk ku. Dia tak sedang bernyanyi, dia pun tak sedang melantunkan puisi, ia hanya sedang bercerita ini dan bercerita itu. Akan tetapi seakan yang terdengar dalam telinga ku adalah susunan irama lagu yang sangat memukau, terkadang bernada rendah dan juga terkadang bernada tinggi. Ketika sedang mengobrol melalui via tulisan memang ia terlihat biasa saja dalam bertutur kata, tapi saat mengobrol melalui via suara tak disangka ia begitu semangat sekali dalam berbicara. Hingga akhirnya aku punya inisiatif untuk merekam semua obrolan kami.  Sekarang aku punya kebiasaan baru, mendengarkan rekaman suara-suara nya sebelum tidur.

Awalnya memang aku menginginkan untuk tidak melakukan videocall dalam hubungan jarak jauh ini sampai aku pulang ke tanah air, akan tetapi hati ini tak sanggup menahan rasa penasaran untuk melihat belahan jiwa disana. Akhirnya pun kami memulai mengobrol dengan menggunakan via video. Sekali dua kali dalam seminggu hingga akhirnya tiap hari kami selalu ingin bersama. Terkadang ku temani ia istirahat melepas lelahnya karena seharian sibuk disekolah, atau terkadang hanya sekedar mengucapkan ‘aku rindu kamu’.

Begitulah awal kisah cinta kami, tanggal bersejarah ini akan selalu ku ingat. Ini lah kisah cinta kami!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar