Sabtu, 31 Januari 2015

Si Kerudung Hijau

''Troeeet.... troeeet.... troeet..... troeeet.....'', terdengar bunyi terompet-terompet memekakkan telinga seraya memanggil tiap orang yang mendengarnya. Sontak seketika itu juga orang-orang ramai berkumpul di sepanjang pinggir jalan desa Benda, nama desa Pondok Pesantrenku. Aku dan puluhan santri yang saat itu sedang asyik-asyiknya menyantap makan sore kami di warben (warung benda-red) tak kalah penasarannya dengan penduduk desa yang saat itu ikut berkerubung memadati pinggir jalan. Dalam benak kami hanya terpikirkan 'apa gerangan bunyi-bunyi itu?'. Sebuah becak berisikan seorang pria dan wanita paruh baya duduk sambil tersenyum ke kanan dan ke kiri diiringi sekelompok orang yang membentuk sebuah formasi di tengah jalan sambil berjalan sedikit demi sedikit seakan mengatakan pada kami yang menonton mereka 'lihatlah kami'.


Rasa ingin tahu ku tak terbayarkan walau aku ikut menonton mereka. Dengan penasarannya aku bertanya pada ibu warben, panggilan akrab kami pada ibu penjual makanan di warung makan tersebut. ''itu dalam rangka apa bu?'', tanyaku. sambil melihat ke arah luar warung ibu warben menjawab, ''owh itu lagi kampanye luk, itu pak muhaimin nyalonin diri jadi kepala desa benda''. ''owh gitu bu'', sambil manggut-manggut kupandangi penampilan-penampilan mereka, 'akhirnya terbayar juga rasa penasaranku', dalam benakku.

Segera ku habiskan sisa makanan dan minumanku saat itu, takut tertinggal menyaksikan pemandangan yang baru ku lihat selama 3 tahun ku di pondok pesantren Al-hikmah 2 ini. aku berdiri tepat di depan pintu besar warben. Dengan perawakanku yang bisa dikatakan tertinggi di kelas ku saat itu, aku tak takut berdiri di belakang teman-teman yang lain, krn aku masih bisa menyaksikan rombongan kampanye pak muhaimin yang sedang lewat.

Tak berselang lama saat aku sedang menghadap ke sebrang jalan yang berhadapan dengan posisi aku berdiri, seorang perempuan keluar dari rumah abah Mukhlas, salah satu kyai favoritku, kyai cerdas dan pintar, lulusan Al Azhar University yang selalu membuat hatiku kagum tiap pengajian beliau. Seorang perempuan yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku, seorang perempuan yang tak pernah terbayangkan dalam imajinasiku, seorang perempuan yang mampu menarik perhatianku mengalahkan ramai dan serunya kampaye yang sedang berlangsung. Ditengah hingar bingar suara terompet dan ramainya saat itu, aku hanya bisa terdiam memandang sosok perempuan di seberang jalan sana. Hijau... itu warna yang pertama ku tangkap dari sosoknya. kerudungnya hijau, pakaian bercorak hijau dan senyumnya pun indah seperti hijaunya alam nusantara ini.  
''Si kerudung hijau, siapakah engkau?''
'Siapakah gerangan perempuan itu?' hanya itu yg ada dalam pikiranku. Diam dan membisu, hanya itu yang bisa aku lakukan dikala memandangnya dari jauh. Hingga kampanye pemilihan ketua desa pun berlalu dan ia kembali berjalan menuju rumah abah mukhlas sambil sesekali tersenyum dan tertawa bersama temanya. Indah... sungguh ia sangat indah ya Robb....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar