Selasa, 17 Maret 2015

Musibah Menimpa, Bidadari Mulai Melirik Diri Ku


2013, tahun dimana hidup ku mulai tak beraturan. Sosok yang dulu dikenal paling rajin diantara teman-teman yang lain. Rajin belajar, rajin berangkat kuliah atau rajin mengikuti pengajian dan acara-acara yang lain. Sosok yang selalu aktif dalam berbagai organisasi dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Senat, media kabar masisir, kekeluargaan Forum Al hikmah bahkan sempat ada keinginan untuk bergabung dalam organisasi pengurus Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Akan tetapi, ketika tahun ini datang, hilang semua semerbak harum keeksistensian ku dalam hidup ini. Tahun dimana aku harus mengulangi lima mata kuliah ku tahun lalu pada tahun ini, tahun dimana game adalah segala-galanya untuk mengubur diri ku yang mulai kehilangan arah, tahun dimana selalu ku dengar tangisan papa ku dari seberang laut sana dengan berbagai permasalahan yang ia curhatkan pada ku melalui telephon, dan tahun dimana nenek dan mama ku tercinta meninggalkan dunia ini tanpa sempat ku lihat wajahnya untuk terakhir kali, tanpa sempat ku bertegur sapa sama sekali, tanpa sempat aku meminta maaf padanya atas segala kesalahan, perdebatan dan semua hal yang pernah aku lakukan dan tanpa sempat pula ku ucapkan rasa terima kasih ku sekalipun pada nya karena sudah susah payah mau melahirkanku ke dunia ini dan merawat serta mendidikku hingga menjadi pribadi yang seperti ini. 


Tiba-tiba teringat dalam benakku kenangan-kenangan nakalku saat masih kecil dulu. Dulu pernah saat sedang sulit-sulitnya ekonomi keluarga kami, aku meminta uang jajan lima ratus rupiah yang dulu bisa untuk membeli sebuah layang-layang dan benang yang sekarang mungkin butuh ribuan rupiah untuk membelinya, tapi hanya seratus rupiah yang diberikan oleh almarhumah mama, bukan karena pelit atau biar tak boros tp memang tak ada uang lagi yang bisa diberikan pada ku untuk jajan, aku ngambek sejadi-jadinya sampai-sampai aku merobek uang seratus rupiah itu di depan mata mama yang saat itu sedang menyapu rumah. melihat sperti itu Mama marah sejadi-jadinya, menyabetku dengan sapu yang ia pegang tapi aku tau ia sengaja mengarahkan ke kursi yang sedang aku duduki agar tidak melukai ku hingga akhirnya saput tersebut patah jadi dua. Setelah itu, kejadian ini selalu teringat dalam pikiranku karena aku tau bahwa aku telah menyakiti hati mama.

Dimalam saat aku mendapatkan sms dari papa tentang meninggalnya mama. Aku hanya bisa tertegun, terdiam tak tau apa yang ingin ku lakukan. Tak ada air mata yang muncul, tak ada ekspresi  kesedihan dalam raut wajah ku. Berulang kali ku balas sms papa untuk menyakinkan berita yang datang secara tiba-tiba itu, tapi tetap tak berpengaruh pada diriku. Aku bingung apa yang harus ku lakukan, bimbang dan hampa rasanya. Ketika subuh datang menjelang, ku kabarkan teman akrabku sejak di pondok dulu tentang ibuku, dan meminta teman-teman yang lain untuk ikut mensholati (ghoib) dan tahlilan yang ditujukan untuk mama ku pada saat sore nya. Aku bingung dalam acara itu. Tak ada makanan yang aku siapkan untuk acara tahlilan itu. Kaya seakan-akan aku tidak bisa fokus dalam acara, entah kemana perginya pikiranku. Tapi alhamdulillah, ternyata teman-teman ku sangat pengertian, mereka yang menyiapkan semuanya, sampe makanan besar pun disiapkan mereka. Dalam acara itu pun tak ada air mata dan raut kesedihan di wajah ku. Hingga teman-teman semua kagum atas ketabahanku. Aku merasa ini bukan suatu ketabahan, tp aku sendiri tak tau apa yang aku rasakan. 

Hingga malam datang dan usailah acara itu, aku duduk di depan meja belajar ku berniat untuk mengulang hafalan quran ku seperti malam-malam biasanya sebelum tidur. Baru saat itu lah tiba-tiba menetes lah air mataku. Sedikit demi sedikit tak bisa ku hentikan, tumpahlah semua kesedihanku saat itu. Teringat semua kenangan manis dan pahit bersama almarhumah. Teringat saat-saat susah bersama almarhumah. Teringat dahulu saat aku masih SD, saking tak ada uang untuk membeli bahan makanan, mama dan aku makan siang dengan nasi dan sambal tauge saja. Mama mengaku suka dengan makanan kami saat itu, tapi aku tau yang sebenarnya bahwa kami tak ada uang untuk membeli lauk seperti tetangga-tetangga sekitar, mulai saat itulah aku menyukai sambal tauge buatan almarhumah mama bahkan memintanya membuat itu berulang kali. Semakin deras tangis ku saat malam semakin larut, teringat semua memoriku bersama almarhumah. Dan yang membuat aku sedih sekali ketika mengingat konfliknya bersama papa. Aku hanya bisa beristighfar dan mengirim alfatihah sebanyak-banyaknya untuk beliau, berharap doa-doa ini bisa menembus segala kesalahan almarhumah yang pernah beliau perbuat. Semakin ku menahan tangisku, semangkin deras pula air mata yang keluar dari kedua mataku. Teman-teman sekamar ku hanya bisa diam mendengar tangis ku saat itu. Aku hanya berharap semoga Allah S.W.T. mengampuni segala dosanya, amiin.

Kejadian ini mengubahku, bahkan membuatku lebih semangat untuk menghatamkan hafalan quran ku saat itu. Karena ketika ku kabari guru ngaji quran ku tetang musibah ini, beliau menceritakan satu hadis Rosulullah S.A.W. tentang keutamaan orang tua yang memiliki anak yang hafal alquran. Beliau bercerita, ‘’Nanti ketika hari perhitungan datang, saat semua orang berkumpul di padang mahsyar kepanasan dan terlihat semua amal perbuatan masing-masing saat dahulu didunia, ada segelintir orang yang memakai jubah dari cahaya. Mereka sangat mencolok dibandingkan manusia yang lain. Bahkan mereka sendiri kebingungan kenapa mereka mendapatkan kemuliaan yang begitu besar tersebut. Hingga akhirnya mereka bertanya pada Allah ‘Ya Allah, perbuatan apa yang membuat kami mendapatkan kedudukan mulia seperti ini’, kamu tau apa jawaban Allah?’’ (seraya bertanya pada ku saat itu), aku hanya diam mendengarkan cerita itu. Lalu guruku tersebut melanjutkan ceritanya, ‘’Allah S.W.T. menjawab, ‘semua itu tidak lain karena kamu memiliki anak yang hafal Al quran’. Lalu rosulullah bersabda pada sahabatnya dalam hadist tersebut, ‘orang tuanya saja mendapat kemuliaan seperti itu, apalagi penghafalnya’.” Setelah mendengar cerita seperti itu, aku bertekad sebelum pulang ke tanah air, tidak hanya selesai kuliah tapi aku pun harus menyelesaikan hafalanku untuk hadiah mama dan papa di hari kiamat nanti.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga tahun pun ikut berganti pula. Sekarang sudah pertengahan tahun 2014. aku tidak ingin fakum dalam keterpurukan, aku berubah. Bulan ramadhan ku jalani dengan penuh semangat. Ingin rasanya menghatamkan saat ramadhan ini akan tetapi posisi hafalanku masih belum jauh dari halaman tengah alquran, karena baru beberapa hari lalu ku melewati halaman itu. Hidupku berubah lebih baik dari sebelumnya walaupun aku sendiri merasa belum maksimal dalam belajar tapi aku merasa lebih baik, bahkan kabar tentang si kerudung hijau pun sudah lama tak ku denger keberadaannya. Sejak ku remove FB nya, sangat jarang sekali ku mengetahui kabarnya lebih lanjut. Hingga suatu hari aku mendengar cerita dari salah satu teman serumahku, zulfi, tentang seorang perempuan yang tak lain adalah adik si kerudung hijau itu, ika arifa. Sedikit demi sedikit ku tanyakan pada zulfi prihal si adik dan sambil ku singgung tentang sosok si kerudung hijau, yang kini ku tau bernama ‘lulu khumaeroh’. Tak ada kesan curiga atau bagaimana ketika kami membicarakannya, karena tak seorang pun teman ku yang tau kalau dari dulu aku menaruh hati padanya. Bahkan saat ini aku sedang digosipkan dengan salah satu perempuan masisir yang kebetulan aku bantu ia dan teman-temannya dalam mencari rumah sekitar daerah kuliah al Azhar. Hanya ketawa yang bisa keberikan ketika ada orang menggosipi ku. Tak ada rasa sama sekali pada diriku karena memang dari awal aku hanya berniat membantu mereka ketika ku melihat tak seorangpun dari kekeluargaan atau teman-teman laki-laki mereka yang membantu mereka dalam mencari rumah.

Aku dan temanku itu, zulfi, berbicara panjang lebar tentang si ika dan kakaknya. Hingga tak sadar aku menyeletuk, ‘sudah ada yang ngelamar dia belum ya zul??!!’. Kontan mendengar aku mengatakan seperti itu, zulfi langsung curiga padaku. ‘hmmm…. Ternyata!!’ ucap zulfi sambil tersenyum. ‘gimana?? Mau aku tanyain ke adik nya ga luk??!!’ tanya zulfi padaku. Sontak aku kaget mendengar pertanyaan zulfi itu. Tapi saking penasarannya diriku ini, ku mengiyakan pertanyaan zulfi. Tak lama langsung ia raih hp nya dan mengirim pesan lewat facebook. Mungkin karena sedang masa-masa liburan pondok, tak lama menunggu, adik si kerudung hijau pun membalas dengan sebuah pertanyaan yang tidak kami sangka sama sekali, ‘emang kenapa? Ada yang suka mba lulu?’. ‘iya..’ jawab zulfi singkat. ‘siapa?? Serius ga?? Mba lulu nyari yang serius bukan yang main-main doang’, jawab ika. Sontak kami berdua terdiam sejenak, zulfi memandangku dalam-dalam. ‘gimana luk? Kamu serius nih? Kalau serius aku sebutin nama kamu…’, terang zulfi. Aku terdiam seribu bahasa, diantara senang dan bimbang. Senang karena itu pertanda bahwa ia masih single, bimbang karena aku sadar ternyata ini bukan saat nya lagi aku berdiam diri dan mengaguminya dari jauh, tapi sekarang waktunya aku harus menentukan sikap antara ‘iya’ dan ‘tidak’ yang akan menentukan masa depanku nanti. Aku meminta zulfi jangan terburu-buru menyebutkan namaku dalam pesan itu. Aku ingin sholat istikharoh dulu malam ini untuk memantapkan langkahku kedepan.

Esoknya, aku katakan ‘iya’ pada zulfi, dan ternyata zulfi sudah lebih dulu menyebutkan tentang diriku pada si ika sebelumnya. Aku hanya tertawa melihat sikap zulfi yang terlihat sangat mendukungku untuk terus maju. ‘adik kelasnya bernama lukman hakim dari tangerang’ itu yang zulfi sampaikan pada ika. Tak lama ada balesan dari ika, ‘kalau serius, langsung aja kenalan sendiri ke mba lulu lewat FB nya. Sudah aku kasih tau mba lulu nya kok’. Deg deg deg deg…. suara jantungku berdetak keras. Banyak bermunculan pertanyaan dalam benakku, keraguan, bimbang, takut, malu... semua jadi satu. ‘kalau kamu mau lanjut luk, inbok dia…. Tapi kalau kamu ga kirim pesan ke dia, berarti ya sudah perkenalannya tak akan ada lanjutannya’ ucap zulfi. Aku hanya bisa tertegun mendengar ucapan zulfi. Esoknya ku beranikan diri dan add kembali facebooknya dan ku kirim pesan padanya ‘assalamu’alaikum, gimana kabar ukhti? Sehat?’. Cluung cluuung….. (suara 2 pesan facebook), ku lihat ada pemberitahuan persetujuan pertemanan dari nya dan sebuah pesan balasan, ‘wa’alaikumsalam… alhamdulillah baik’. Sebuah pesan balasan yang tak pernah ku sangka akan ada di kolom pesan facebook ku. Dalam hati ku bergumam, ‘Bidadari mulai melirik diri ku’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar