Jumat, 03 Juli 2015

Syihabuddin Al Qarafi, Cendekiawan Mesir Penemu Asli Teori Pelangi



Ahmad bin Idris bin Abdurrahman Abu al Abbas yang lebih dikenal dengan sebutan Syihabuddin Al Qarafi Al Shonhaji Al Bahnasy, seorang cendikiawan ternama yang lahir sekitar pertengahan abad ke-7 hijriyah dari desa bahnasa yang terletak dibagian barat sungai nil, mesir. Beliau berasal dari kabilah sanhaja salah satu kabilah barbar dari maroko, yang telah lama menetap di bumi kinanah ini. Sedangkan sebutan al qarafi disematkan padanya, berasal dari nama sebuah tempat yang bersebelahan dengan makam imam Syafi’i yang mana pada suatu hari beliau, syihabuddin, berangkat terburu-buru ke madrasah untuk menuntut ilmu melewati tempat tersebut karena beliau sudah terlambat. Ketika sampai, sekretaris yang menulis semua nama pada absen hadir lupa akan nama beliau. Lalu sang sekretaris tersebut menulis al qarafi sebagai ganti nama syihabuddin dalam absen dikarenakan arah datangnya beliau. Karena itulah beliau terkenal dengan sebutan al qarafi.

Dari berbagai macam sumber sejarah tercatat, bahwa beliau merupakan ulama dari berbagai macam fan ilmu baik ilmu agama seperti fiqh, ushul fiqh, aqidah dan perbandingan agama, bahkan beliau juga memumpuni berbagai macam ilmu lain seperti ilmu optik dan astronomi. Salah satu sumbangsi beliau dalam ilmu pengetahuan optik adalah temuan beliau tentang teori pelangi yang terpapar dalam salah satu karya ilmiyah beliau yang berjudul Kitab Al-Istibshar fi ma Yudrikuhu bil-Abshar (Buku tentang penjelasan apa yang dapat ditangkap oleh mata).

Buku tersebut sebenarnya oleh Al Qarafi dibuat untuk menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia Frederick II (1194-1250) kepada Sultan Kamil Muhammad dari Dinasti Ayyubiyah (1218-1238). Catatan sejarah tidak bisa mengungkapkan secara jelas apakah pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia tersebut sama dengan pertanyaan yang disebut Sicilian Question. Yang jelas, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia terhadap Sultan Kamil Muhammad tersebut, Al Qarafi banyak merenung, berpikir dan membuat sejumlah penelitian dan eksperimen terhadap masalah pelangi. Hingga akhirnya dia bisa menemukan jawaban tentang bagaimana pelangi itu bisa muncul di angkasa seusai hujan dengan warnanya yang begitu indah yakni merah, kuning, biru di langit yang begitu luas.

Menurut Al Qarafi pelangi bisa muncul di langit begitu indah karena adanya pancaran sinar matahari terhadap asap (uap) yang berada di udara. Penjelasan ini sebenarnya sama dengan penjelasan yang telah diungkapkan oleh Ibn Sina, seorang ahli filsafat, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Selain Ibn Sina, Aristoteles, seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung yang ahli di bidang fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi juga pernah menuliskan hal tersebut. Meskipun pendapat munculnya pelangi sudah diungkapkan oleh para ilmuwan lain sebelumnya, tetapi dalam hal menjelaskan tentang kerangka maupun aturan timbulnya warna pelangi, pemikiran Al Qarafi benar-benar orisinal dan tidak terpengaruh oleh pemikiran ilmuwan sebelumnya. Sehingga dia sering disebut sebagai penemu asli Teori Pelangi.

Dalam menjelaskan tatanan warna pelangi, Al Qarafi menyatakan, di dalam asap, warna sinar matahari selalu merah seperti juga warna matahari ketika akan tenggelam dan warna matahari ketika mulai muncul dan bersinar di pagi hari dengan memancarkan berkas-berkas sinarnya. Menurutnya, warna merah yang muncul dari matahari tersebut terdiri dari warna sinar matahari dan warna asap. 

Kabut merupakan bagian dari asap yang sangat tebal yang kemudian berubah menjadi batu di tempat-tempat yang sangat tinggi dan sangat dingin. Tetapi pada daerah-daerah yang lebih rendah, dan daerah-daerah yang sangat jauh dari kawasan yang begitu dingin, kabut muncul dari bumi akibat panasnya perut bumi. Asap kabut yang muncul dari bumi tersebut berwarna hampir hitam atau kadang-kadang muncul berwarna biru langit, tetapi sangat jarang muncul dengan warna putih tanpa warna biru. Warna setelah merah adalah warna hitam. Sudah menjadi ketentuan bahwa jika warna hitam dicampur dengan warna merah maka yang akan muncul adalah warna kuning. Karena itulah, maka warna pelangi menjadi merah, kuning, biru langit, dan warna-warna murni lainnya. 

Menurut Al Qarafi, terdapat dua macam warna pelangi. Kedua macam warna pelangi tersebut yaitu warna-warna asap dan warna matahari. warna pelangi tersusun dari kedua unsur tersebut.
Penjelasan Al Qarafi mengenai warna-warna pelangi berdasarkan pada prinsip ke-empat yang terdapat pada awal Kitab Al-Istibshar fi ma Yudrikuhu bil-Abshar (Buku tentang penjelasan apa yang dapat ditangkap oleh mata). Dia telah menemukan bahwa warna cermin tidak memantulkan kembali warna-warna asli sepenuhnya dari objek yang dipantulkan oleh cermin berdasarkan eksperimen maupun penelitiannya yang telah dilakukannya sekian lama. 

Sebenarnya, warna citra yang dipantulkan oleh cermin tersebut merupakan warna yang muncul antara warna objek dan warna cermin itu sendiri. Penjelasan orisinal dari Al Qarafi sendiri juga terdapat dalam jawabannya terhadap pertanyaan, kenapa pelangi hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, dia tidak muncul setiap hari. Menurut Al Qarafi, pelangi tidak bisa muncul setiap waktu karena tidak adanya bukit maupun awan mendung di balik partikel-partikel kabut kepekatan awan dari mana pelangi terbentuk. Partikel-partikel dalam keadaan yang amat pekat menjadi tidak tembus cahaya, tidak seperti cermin. 

Sebenarnya Aristoteles juga pernah menjelaskan kenapa pelangi tidak muncul setiap saat. Namun penjelasan Aristoteles tidak begitu spesifik dan lengkap seperti yang pernah dijelaskan oleh Al Qarafi. Sehingga penjelasan Al Qarafi tentang pelangi dianggap paling memuaskan dibandingakan dengan penjelasan para ilmuwan lain. Sejumlah ilmuwan lain yang pernah menjelaskan tentang adanya pelangi anatara lain Seneca, Theodororius of Frieberg, Roger Bacon, Ikhwan Al Safa, Ibn Rusyd dan masih banyak lagi. Namun mereka kurang bisa memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap kemunculan pelangi yang begitu indah.

Tak kalah hebatnya, selain mampu menjelaskan ilmu optik dengan kemampuan berfikirnya yang sangat luar biasa, beliau al qarafi juga mampu menjawab berbagai permasalahan agama yang disetir dari pihak orientalis, missionaris, kristenisasi dan berbagai pihak yang tidak menyukai agama Islam berjaya. Dengan bahasa yang lugas dan sangat berbobot, beliau menjawab semua permasalahan-permasalahan tersebut dalam beberapa karya ilmiyah beliau yang hingga kini masih bisa kita dapatkan di toko-toko buku, seperti al-ajwibah al-fakhirah fi al-rad ‘ala al-as ilah al-fajirah dan adillatul wahdaniyat fi al-rad ‘ala al-nashraniah.

Sumber :
Kitab al-ajwibah al-fakhirah fi al-rad ‘ala al-as ilah al-fajirah
http://metakerenz.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar