Ahmad bin Idris bin
Abdurrahman Abu al Abbas yang lebih dikenal dengan sebutan Syihabuddin Al
Qarafi Al Shonhaji Al Bahnasy, seorang cendikiawan ternama yang lahir sekitar
pertengahan abad ke-7 hijriyah dari desa bahnasa yang terletak dibagian barat
sungai nil, mesir. Beliau berasal dari kabilah sanhaja salah satu
kabilah barbar dari maroko, yang telah lama menetap di bumi kinanah ini.
Sedangkan sebutan al qarafi disematkan padanya, berasal dari nama sebuah
tempat yang bersebelahan dengan makam imam Syafi’i yang mana pada suatu hari
beliau, syihabuddin, berangkat terburu-buru ke madrasah untuk menuntut ilmu
melewati tempat tersebut karena beliau sudah terlambat. Ketika sampai,
sekretaris yang menulis semua nama pada absen hadir lupa akan nama beliau. Lalu
sang sekretaris tersebut menulis al qarafi sebagai ganti nama syihabuddin dalam
absen dikarenakan arah datangnya beliau. Karena itulah beliau terkenal dengan
sebutan al qarafi.
Dari berbagai
macam sumber sejarah tercatat, bahwa beliau merupakan ulama dari berbagai macam
fan ilmu baik ilmu agama seperti fiqh, ushul fiqh, aqidah dan perbandingan
agama, bahkan beliau juga memumpuni berbagai macam ilmu lain seperti ilmu optik
dan astronomi. Salah satu sumbangsi beliau dalam ilmu pengetahuan optik adalah temuan
beliau tentang teori pelangi yang terpapar dalam salah satu karya ilmiyah
beliau yang berjudul Kitab Al-Istibshar fi ma Yudrikuhu
bil-Abshar (Buku tentang penjelasan apa yang dapat ditangkap oleh mata).
Buku tersebut sebenarnya oleh Al Qarafi dibuat untuk
menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia Frederick II
(1194-1250) kepada Sultan Kamil Muhammad dari Dinasti Ayyubiyah (1218-1238).
Catatan sejarah tidak bisa mengungkapkan secara jelas apakah pertanyaan yang
diajukan oleh Raja Sisilia tersebut sama dengan pertanyaan yang disebut
Sicilian Question. Yang jelas, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
Raja Sisilia terhadap Sultan Kamil Muhammad tersebut, Al Qarafi banyak
merenung, berpikir dan membuat sejumlah penelitian dan eksperimen terhadap
masalah pelangi. Hingga akhirnya dia bisa menemukan jawaban tentang bagaimana
pelangi itu bisa muncul di angkasa seusai hujan dengan warnanya yang begitu
indah yakni merah, kuning, biru di langit yang begitu luas.
Menurut Al Qarafi pelangi bisa muncul di langit begitu indah
karena adanya pancaran sinar matahari terhadap asap (uap) yang berada di udara.
Penjelasan ini sebenarnya sama dengan penjelasan yang telah diungkapkan oleh
Ibn Sina, seorang ahli filsafat, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia
(sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Selain Ibn Sina, Aristoteles,
seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung yang
ahli di bidang fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik,
pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi juga pernah menuliskan hal tersebut.
Meskipun pendapat munculnya pelangi sudah diungkapkan oleh para ilmuwan lain
sebelumnya, tetapi dalam hal menjelaskan tentang kerangka maupun aturan
timbulnya warna pelangi, pemikiran Al Qarafi benar-benar orisinal dan tidak
terpengaruh oleh pemikiran ilmuwan sebelumnya. Sehingga dia sering disebut
sebagai penemu asli Teori Pelangi.
Dalam menjelaskan tatanan warna pelangi, Al Qarafi
menyatakan, di dalam asap, warna sinar matahari selalu merah seperti juga warna
matahari ketika akan tenggelam dan warna matahari ketika mulai muncul dan
bersinar di pagi hari dengan memancarkan berkas-berkas sinarnya. Menurutnya,
warna merah yang muncul dari matahari tersebut terdiri dari warna sinar
matahari dan warna asap.
Kabut merupakan bagian dari asap yang sangat tebal yang
kemudian berubah menjadi batu di tempat-tempat yang sangat tinggi dan sangat
dingin. Tetapi pada daerah-daerah yang lebih rendah, dan daerah-daerah yang
sangat jauh dari kawasan yang begitu dingin, kabut muncul dari bumi akibat
panasnya perut bumi. Asap kabut yang muncul dari bumi tersebut berwarna hampir
hitam atau kadang-kadang muncul berwarna biru langit, tetapi sangat jarang
muncul dengan warna putih tanpa warna biru. Warna setelah merah adalah warna
hitam. Sudah menjadi ketentuan bahwa jika warna hitam dicampur dengan warna
merah maka yang akan muncul adalah warna kuning. Karena itulah, maka warna
pelangi menjadi merah, kuning, biru langit, dan warna-warna murni lainnya.
Menurut Al Qarafi, terdapat dua macam warna
pelangi. Kedua macam warna pelangi tersebut yaitu warna-warna asap dan warna
matahari. warna pelangi tersusun dari kedua unsur tersebut.
Penjelasan Al Qarafi mengenai warna-warna pelangi
berdasarkan pada prinsip ke-empat yang terdapat pada awal Kitab Al-Istibshar fi
ma Yudrikuhu bil-Abshar (Buku tentang penjelasan apa yang dapat ditangkap oleh
mata). Dia telah menemukan bahwa warna cermin tidak memantulkan kembali
warna-warna asli sepenuhnya dari objek yang dipantulkan oleh cermin berdasarkan
eksperimen maupun penelitiannya yang telah dilakukannya sekian lama.
Sebenarnya, warna citra yang dipantulkan oleh
cermin tersebut merupakan warna yang muncul antara warna objek dan warna cermin
itu sendiri. Penjelasan orisinal dari Al Qarafi sendiri juga terdapat dalam
jawabannya terhadap pertanyaan, kenapa pelangi hanya muncul pada waktu-waktu
tertentu, dia tidak muncul setiap hari. Menurut Al Qarafi, pelangi tidak bisa muncul
setiap waktu karena tidak adanya bukit maupun awan mendung di balik partikel-partikel
kabut kepekatan awan dari mana pelangi terbentuk. Partikel-partikel dalam
keadaan yang amat pekat menjadi tidak tembus cahaya, tidak seperti cermin.
Sebenarnya Aristoteles juga pernah
menjelaskan kenapa pelangi tidak muncul setiap saat. Namun penjelasan
Aristoteles tidak begitu spesifik dan lengkap seperti yang pernah dijelaskan
oleh Al Qarafi. Sehingga penjelasan Al Qarafi tentang pelangi dianggap paling
memuaskan dibandingakan dengan penjelasan para ilmuwan lain. Sejumlah ilmuwan
lain yang pernah menjelaskan tentang adanya pelangi anatara lain Seneca,
Theodororius of Frieberg, Roger Bacon, Ikhwan Al Safa, Ibn Rusyd dan masih
banyak lagi. Namun mereka kurang bisa memberikan penjelasan yang memuaskan
terhadap kemunculan pelangi yang begitu indah.
Tak kalah hebatnya, selain mampu
menjelaskan ilmu optik dengan kemampuan berfikirnya yang sangat luar biasa,
beliau al qarafi juga mampu menjawab berbagai permasalahan agama yang
disetir dari pihak orientalis, missionaris, kristenisasi dan berbagai pihak
yang tidak menyukai agama Islam berjaya. Dengan bahasa yang lugas dan sangat
berbobot, beliau menjawab semua permasalahan-permasalahan tersebut dalam
beberapa karya ilmiyah beliau yang hingga kini masih bisa kita dapatkan di
toko-toko buku, seperti al-ajwibah al-fakhirah fi al-rad ‘ala al-as ilah
al-fajirah dan adillatul wahdaniyat fi al-rad ‘ala al-nashraniah.
Sumber :
Kitab
al-ajwibah al-fakhirah fi al-rad
‘ala al-as ilah al-fajirah
http://metakerenz.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar