Minggu, 22 Februari 2015

Kita, Part I


Idul Fitri selalu menjadi bulan yang aku tunggu. Satu-satunya bulan yang mengumpulkan seluruh keluargaku yang terpisah, tanpa harus ada yang sakit, tanpa harus ada acara besar. Idul Fitri, selalu menjadi kenangan, kenangan bahagia masa kecilku yang tak akan pernah terulang, kenangan menggetirkan tentang “hampir kehilangan mama” –orang yang paling aku sayangi, kenangan mengharukan pertemuan sekaligus perpisahan sanak saudara, kenangan menyenangkan memiliki uang banyak –karena hanya di bulan ini aku bebas membeli jajan yang kusuka (hehe)- . Ya, aku selalu tak pernah kehabisan kata untuk menggambarkan Idul Fitri, karena sebagian besar pahit manis kehidupanku terjadi di bulan ini. Karena setiap idul Fitri aku merasa.....”aku telah lama menghuni bumi tua ini”.



            Dan di Idhul Fitri pula aku kisahku bersamanya dimulai, perkenalan tanpa pertemuan, tanpa memandang wajahnya, tanpa mendengar suaranya, hanya ingatan dan perasaan yang meyakinkan.
.........................................


Ahad, 2 Agustus 2014


            Entah mengapa lebaran tahun ini terasa berbeda. Karena tertekankah? Karena aku dihadapkan pada pilihan yang sulitkah? Atau karena aku masih menjadi aku yang seperti ini? Entah... aku berusaha menerka diri ini, memeilah milih apa yang kumau dan apa yang aku butuhkan. Mempertimbangkan segala nasehat keluarga besarku. Yang aku dapat hanyalah “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerka”.
            Inilah aku yang selalu tak bisa menentukan jalan hidupku sendiri. Aku yang selalu ingin membahagiakan seluruh orang yang kusayangi dan ku hargai. Aku yang selalu berusaha mendengarkan apa kata orang-orang yang memperdulikanku tanpa mendengarkan mau hatiku. Aku yang lemah.


            Pun lebaran ke-5 ini. Di usiaku yang 24. Aku masih saja menerka. Aku masih saja tak bisa memutuskan. Aku masih saja entah.


            “Mba, ada yang suka mba, dia adik kelas mba, namanya Lukman Hakim, gmn?”


            Di tengah-tengah kegalauanku aku tersentak dengan ucapan adikku, Ika, adik satu-satunya yang aku miliki. Saudara kandung satu-satunya yang kupunya.


            “Hah? Lukman?”.


             Nama ini tak terdengar agak asing buatku. Aku memang kaka kelas yang kurang baik, kurang memperhatikan adik kelas, apalagi adik kelas laki-laki. Aku hanya bisa menjawab dengan kata pendek itu untuk mewakili seabreg pertanyaanku. “adik kelasku?:, “suka?”, “paling buat pacaran doang”, “paling ga serius” dan bla bla bla pertanyaan yang lain.
            “Nanti aku tanyain deh dia serius sama mba ga, nanti aku sampein juga kalo mba udah ga mau main – main sama hubungan, oia nama FB nya Lukman Hakim Saefudin”. Lanjut ika meyakinkanku. Ika memang selalu memperhatikanku dari hal sepele, pola makanku, pakeanku, apalagi hubungan percintaanku.
            “Ya terserah ika aja deh”. Jawabku singkat, karena aku memang tak pernah tertarik apalagi berniat berhubungan dengan orang yang lebih muda dariku. Dan setelah itupun aku tak langsung mencari nama itu di FB ku. Karena jujur, aku tak anggap dia serius.


Senin, 3 Agustus 2014


            “Cling”, messsengerku berbunyi, aku sedikit berlari dari kamarku dan segera meraih hp yang sedang aku ces. Jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya melihat sms dari adik kelasku ini.
            “Assalamualaikum ukh, saya Lukman, gimana kabarnya?” gaya smsnya yang kaku membuatku sedikit meleleh dan tersenyum. Aku tak segera membalas smsnya itu, aku buka fb-nya, aku penasaran seperti apa dia, apa aku pernah berkomunikasi dengannya sebelum ini, apa aku kenal dia? Apa dia benar – benar kenal aku? Bertumpuk pertanyaan yang ingin segera kutemukan jawabannya. Dan WHAT???!!! Dia baru nge-add fb-ku??? Kita ga berteman sebelumnya??? Tiba – tiba setumpuk pertanyaan ini runtuh karena tertimpa seratus tumpuk pertanyaan lagi.


            “Bagaimana bisa??” hanya ini yang bisa mewakili pertanyaan – pertanyaan sulit ini.


            Aku tak sabar membiarkan bertumpuk – tumpuk pertanyaan memenuhi otakku, “Wassalamualaikum, Alhamdulillah baik, kamu gmn?” kulayangkan smsku.


            Cling, messenger berbunyi  “Ukh, saya suka sama ukhti, menurut ukh bagaimana?”


Begitu seterusnya, komunikasi kita berjalan lancar walau dia begitu kaku, kita saling mengenal, saling mengerti. Bagaimana dengan perasaanku? Entahlah, sejauh ini dia tak pernah menanyakan tentang perasaanku.


to be continue
           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar