Idul Fitri selalu menjadi bulan
yang aku tunggu. Satu-satunya bulan yang mengumpulkan seluruh keluargaku yang
terpisah, tanpa harus ada yang sakit, tanpa harus ada acara besar. Idul Fitri,
selalu menjadi kenangan, kenangan bahagia masa kecilku yang tak akan pernah
terulang, kenangan menggetirkan tentang “hampir kehilangan mama” –orang yang
paling aku sayangi, kenangan mengharukan pertemuan sekaligus perpisahan sanak
saudara, kenangan menyenangkan memiliki uang banyak –karena hanya di bulan ini
aku bebas membeli jajan yang kusuka (hehe)- . Ya, aku selalu tak pernah
kehabisan kata untuk menggambarkan Idul Fitri, karena sebagian besar pahit
manis kehidupanku terjadi di bulan ini. Karena setiap idul Fitri aku
merasa.....”aku telah lama menghuni bumi tua ini”.
Dan
di Idhul Fitri pula aku kisahku bersamanya dimulai, perkenalan tanpa pertemuan,
tanpa memandang wajahnya, tanpa mendengar suaranya, hanya ingatan dan perasaan
yang meyakinkan.
.........................................
Ahad, 2 Agustus 2014
Entah
mengapa lebaran tahun ini terasa berbeda. Karena tertekankah? Karena aku
dihadapkan pada pilihan yang sulitkah? Atau karena aku masih menjadi aku yang
seperti ini? Entah... aku berusaha menerka diri ini, memeilah milih apa yang
kumau dan apa yang aku butuhkan. Mempertimbangkan segala nasehat keluarga
besarku. Yang aku dapat hanyalah “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin
menerka”.
Inilah
aku yang selalu tak bisa menentukan jalan hidupku sendiri. Aku yang selalu
ingin membahagiakan seluruh orang yang kusayangi dan ku hargai. Aku yang selalu
berusaha mendengarkan apa kata orang-orang yang memperdulikanku tanpa
mendengarkan mau hatiku. Aku yang lemah.
Pun
lebaran ke-5 ini. Di usiaku yang 24. Aku masih saja menerka. Aku masih saja tak
bisa memutuskan. Aku masih saja entah.
“Mba,
ada yang suka mba, dia adik kelas mba, namanya Lukman Hakim, gmn?”
Di
tengah-tengah kegalauanku aku tersentak dengan ucapan adikku, Ika, adik
satu-satunya yang aku miliki. Saudara kandung satu-satunya yang kupunya.
“Hah?
Lukman?”.
Nama ini tak terdengar agak asing buatku. Aku
memang kaka kelas yang kurang baik, kurang memperhatikan adik kelas, apalagi
adik kelas laki-laki. Aku hanya bisa menjawab dengan kata pendek itu untuk
mewakili seabreg pertanyaanku. “adik kelasku?:, “suka?”, “paling buat pacaran
doang”, “paling ga serius” dan bla bla bla pertanyaan yang lain.
“Nanti
aku tanyain deh dia serius sama mba ga, nanti aku sampein juga kalo mba udah ga
mau main – main sama hubungan, oia nama FB nya Lukman Hakim Saefudin”. Lanjut
ika meyakinkanku. Ika memang selalu memperhatikanku dari hal sepele, pola
makanku, pakeanku, apalagi hubungan percintaanku.
“Ya
terserah ika aja deh”. Jawabku singkat, karena aku memang tak pernah tertarik
apalagi berniat berhubungan dengan orang yang lebih muda dariku. Dan setelah
itupun aku tak langsung mencari nama itu di FB ku. Karena jujur, aku tak anggap
dia serius.
Senin, 3 Agustus 2014
“Cling”,
messsengerku berbunyi, aku sedikit berlari dari kamarku dan segera meraih hp
yang sedang aku ces. Jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya melihat sms
dari adik kelasku ini.
“Assalamualaikum
ukh, saya Lukman, gimana kabarnya?” gaya smsnya yang kaku membuatku sedikit
meleleh dan tersenyum. Aku tak segera membalas smsnya itu, aku buka fb-nya, aku
penasaran seperti apa dia, apa aku pernah berkomunikasi dengannya sebelum ini,
apa aku kenal dia? Apa dia benar – benar kenal aku? Bertumpuk pertanyaan yang
ingin segera kutemukan jawabannya. Dan WHAT???!!! Dia baru nge-add fb-ku???
Kita ga berteman sebelumnya??? Tiba – tiba setumpuk pertanyaan ini runtuh
karena tertimpa seratus tumpuk pertanyaan lagi.
“Bagaimana
bisa??” hanya ini yang bisa mewakili pertanyaan – pertanyaan sulit ini.
Aku
tak sabar membiarkan bertumpuk – tumpuk pertanyaan memenuhi otakku,
“Wassalamualaikum, Alhamdulillah baik, kamu gmn?” kulayangkan smsku.
Cling, messenger berbunyi “Ukh,
saya suka sama ukhti, menurut ukh bagaimana?”
Begitu seterusnya, komunikasi
kita berjalan lancar walau dia begitu kaku, kita saling mengenal, saling
mengerti. Bagaimana dengan perasaanku? Entahlah, sejauh ini dia tak pernah
menanyakan tentang perasaanku.
to be continue

Tidak ada komentar:
Posting Komentar