Jumat, 17 Juli 2015

Ramadhan Bersamamu



Rasanya baru kemarin aku menyambut bulan ini. Bulan yang ditunggu semua umat-Mu. Bulan yang membawa berkah untuk siapapun tanpa terkecuali.

Aku masih ingat, untuk mengenalmu di bulan syawal tahun lalu aku harus melewati hal- hal yang sangat menyakitkan di ramadhanku (mungkin ini terlalu berlebihan) tapi itulah kenyataannya. Lebih dari seminggu aku menangis karena hal yang telah menyakiti hatiku, meruntuhkan harapanku, melumpuhkan semangatku. Aku menangis dan terus menangis rasanya tak akan ada hal yang bisa membuatku tersenyum lagi. Tanpa menyadari bahwa Allah selalu memenuhi janji-Nya, janji bahwa sesungguhnya dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah air mata pasti akan merekahlah senyuman. 


Satu hal lain yang kudapatkan dari kesedihanku adalah aku tau bahwa kita tak boleh menggantungkan harapan kita pada siapapun kecuali pada Allah. Bahwa orang yang paling kita banggakan, orang yang paling kita kagumi bisa jadi adalah orang yang bisa paling menyakitkan bagi kita. Bahwa ketulusan hanya Alloh lah yang bisa membalasnya. Bahwa keikhlasan adalah proses dan hanya Allah lah yang bisa mengukurnya. Bahwa tugas kita hanyalah berusaha berusaha berusaha dan berdoa. Allah lah yang memiliki hak mutlak untuk menentukan hasilnya. Dan saat aku mulai pasrah, saat aku mulai menyadari bahwa kesedihanku adalah akibat dari kelalaianku, keselahanku itulah wujud ikhlas yang bisa ku lakukan. Allah mengirimkanmu untuku, menjadi pelipur kesedihanku, menjadi pembangkit semangatku, menghidupkan harapanku. Terima kasih ya Allah.

Ramadhan tahun ini banyak yang berbeda. Aku ikuti saranmu untuk menghabiskan bulan ini di rumah. Perbaiki hati, eratkan kekeluargaan dan benar saja hatiku sungguh tenang. Hatiku lebih tenang, aku bisa lebih memperbaiki ibadahku dan aku juga bisa berkumpul dengan keluarga kecilku. Aku ingat, sejak 2006 tak pernah kuhabiskan romadhon full bersama keluarga. Aku lebih sering pulang H-1 bahkan aku pernah berlebaran di pondok. Sungguh, ramadhan kali ini aku benar-benar merasakan tenangnya bersama keluarga, menikmati sahur dan buka bersama, membatu mama membereskan rumah membuat kue dan menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya, dan sesuatu yang paling aku rindukan yang sudah lama tak kurasakan adalah menemukan suara lembut bapak dan mamaku membangunkanku dan adiku untuk sholat malam. Ya Alloh aku tak mau berpisah dengan ramadhan. Aku tak mau...  semoga aku bisa bertemu dengan ramadhan-Mu lagi ya Robb, amin.

September, ya september terasa sudah di depan mata. Bulan yang aku nantikan sejak setahun yang lalu, sejak aku mengenalmu. Aku menuliskan di diaryku 90 hari lagi kita bertemu. Aku seperti anak kecil yang sedang manghitung ampau yang kudapat di lebaran, bahagia. Bahagia yang tak terhingga. Menghitung hari menunggumu saja aku sudah merasakan bahagia yang tiada tara apalagi bertemu secara langsung. Bertemu untuk yang pertama kali. Ya Alloh.. segerakanlah.. mudahkanlah.... halalkanlah kami...

Namun di tengah kebahagiaan ini, hatiku sedikit tersayat. Di depan laptopmu, dengan wajah layumu kau mengucapkan “mas ga bisa pulang September ini, mas gagal di 2 makul, mas harus ikut remidi.. maafkan.. maafkan....”. Aku terdiam.. hanya air mata yang bisa mewakili perasaanku saat itu. Aku tak bisa mengucapkan apapun, terisak. Aku terus menangis. Menguatkan hati. Sampai akhirnya kaupun terisak memohon maaf, memendam kecewa, “mas sudah berusaha.. mas sudah berusaha.. ini kemampuan mas.. maafin mas de.. maafin..” isak tangismu menguatkanku. aku tak boleh selemah ini menerima kegagalan. Menerima hal yang tak diinginkan. Menerima sesuatu yang mengecewakan. Dan kukuatkan hatiku untuk menguatkanmu. Meyakinkanmu bahwa aku akan terus menunggu. Aku akan setia menunggu. 

Ragaku berkumpul dengan keluarga. Telingaku mendengarkan suara adiku bercerita ini itu. Aku tau, mama bapa dan adikku ingin bertanya kenapa mataku sembab. Namun Alhamdulillah pertanyaan itu tak kudengar. Kalau sampai itu terucap aku tak tau jawaban apa yang harus kulontarkan. Pikiranku melayang entah kemana. Teringat setahun lalu aku mengenalmu. Mengucapkan kesanggupanku untuk menunggumu setahun ini. Semua mengalir begitu saja. Semua terasa singkat. Namun untuk menunggumu 5 bulan lagi tetap saja menyesakan dada. Apa ini salahku? Salahku yang kurang pengertian. Selalu menuntut waktumu untuku? Salahku yang kurang mendoakanmu? Salahku yang selalu menekanmu untuk segera pulang? Ya Allah.. maafkan aku... mungkin kita terlalu optimis merangkai rencana-rencana kami tanpa kami sadari pemilik hak mutlak penentu jalan kami adalah Engkau.. ya Allah.. maafkan kelalaian kami, kesombongan kami. Maafkan... maafkan.. 

Di tengah – tengah kesedihanku muncul rasa optimis. Allah pasti sedang menyiapkan hal, cara, waktu dan tempat yang lebih indah untuk mempertemukan kami. Penantian ini tak akan sia-sia. Pertemuan indah pasti kan segera muncul sesuai dengan penantian yang lama ini. Aku yakin itu. Ya Alloh.. maafkan kami.. maafkan... sabarkanlah kami.. kuatkan kami untuk selalu teguh berjalan di atas jalan-Mu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar