Pagi ini langit agak gelap tertutup kabut, mata
ku belum bisa ku pejam kan sejak semalam. Ku lihat jejeran angka di pojok kiri
layar laptopku menunjukkan pukul 5:45 CLT (cairo limited time). Pikiran
ku masih melayang entah kemana, tatapan ku kosong, hati ku berdetak tak
beraturan entah irama apa yang kali ini ia mainkan. Tak lama aku mulai tersadar
dengan suara seseorang yang sudah lama tak ku dengar, suara khas nya yang
sering membuatku rindu untuk selalu mendengar semua kata-kata hikmah kehidupan
darinya, papa ku. Sudah lebih dari sejam aku menelpon papa, bertanya,
berkonsultasi dan meminta nasihat tentang arti sebuah kata ‘cinta’
yang sedang tumbuh dan mekar dalam hati ku. Aku menceritakan padanya tentang
sosok perempuan berkrudung hijau yang kerap kali berlari-lari dalam pikiranku,
menghiasi alam bawah sadar ku dan yang mana akhir-akhir ini ku akui bahwa aku
ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
Dengan suara khasnya papa mengatakan ‘sebuah
pernikahan bukan hanya hubungan antara 2 lawan jenis, akan tetapi dengan ada
nya pernikahan hubungan antara 2 keluarga pun terjalin. Tidak sembarangan
bertemu langsung melamar dan menikah, akan tetapi butuh yang namanya proses
perkenalan baik perkenalan antara kedua orang yang saling mencintai tersebut dan
juga butuh perkenalan antara kedua keluarganya itu. Bagi pihak laki-laki, harus
tahu bagaimana adat di keluarga perempuan, kehidupannya dan sebagainya begitu
pun pihak perempuan perlu untuk mengetahui tentang pihak laki-lakinya. Tidak
bisa bilamana papa datang ke rumah nya lalu sebagai perwakilan dari kamu
langsung meminta si perempuan, tidak…. Tidak bisa bila seperti itu. Katakan
papa langsung melamar perempuannya untuk kamu, lalu apa yang akan papa katakan
tentang kamu yang berada jauh disana??!! Kamu yang masih dalam studi, hidup pun
masih berada dalam tanggungan papa dan belum punya pekerjaan sama sekali.
Apakah pihak perempuan akan menerima begitu saja?! Apakah ayah si perempuan
akan tega memberikan anak gadisnya sama orang yang tidak mereka lihat secara
langsung?! Maka dari itu, untuk mengawalinya adalah perkenalan. Kalian berdua
saling mencari tahu tentang pribadi masing-masing dan saling mengenalkan, lalu
kamu mengenalkan diri nya pada papa dan bunda, dan kamu juga mengenalkan diri
mu pada ibu dan bapa nya si lulu. Tak perlu kamu terburu-buru, kalau jodoh
tidak akan kemana-mana lukman!!’. Dengan suara rendah ku jawab, ‘iya pah’.
‘Baiklah, kalau kamu emang serius dengan pilihan mu ini…. Pertemukan dia dengan
papa dan bunda!!’ dengan nada menantang papa membuka harapanku. ‘beneran
pah???’. ‘iya beneran, akhir bulan ini papa sama bunda akan menengok neli
seperti biasanya di pondok, kamu ajak dia untuk bertemu papa dan bunda’, jelas
papa. Akhirnya matahari mulai keluar dari perpaduannya, sinarnya terpancarkan
diantara awan mendung pagi ini, menyinari semua harapan di bumi ini.
Dengan gembira aku kabarkan pada nya. ini adalah
jawaban dari keseriusan ku terhadap perasaan ku pada nya. Dia lah sosok yang
selama bertahun-tahun ini hanya bisa ku pendam dalam hati dan baru bisa ku
utarakan 2 hari yang lalu. “akhir bulan ini, orang tua saya akan datang ke
pondok untuk menengok neli, adik perempuan saya. Saya ingin memperkenalkan diri
ukhti pada beliau berdua. Ukhti siap??!!” ajak ku pada nya. Dengan terperanjat
ia menjawab, “akhir bulan ini??!!”. “iya ukh, ingin ku kenalkan ukhti ke papa
sebagai bentuk keseriusan saya pada ukhti”. “….. hmmm iya khi, insyallah siap”
jawabnya.
Hari demi hari kita lewati dengan saling mengenal
satu sama lain. Walaupun aku mengenalnya dan selalu memperhatikannya dari tahun
ke tahun tapi baginya aku merupakan sosok asing yang baru muncul saat ini. Dulu
ketika ku masih duduk di bangku SMP, aku pernah bertekad dalam hati bahwa aku
tak akan mengungkapkan pernyataan cinta kecuali pada istriku seorang. Karenanya
mulai saat ini, keserahkan CINTA ku padamu, lulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar