Genap sudah setahun lebih aku tak
tahu kabarnya si perempuan berkerudung hijau itu. Hanya satu pertemuan
membuatku selalu memikirkannya. Pikirku, mungkin ia seorang abdi dalem abah Mukhlas,
karena setahu ku abah mukhlas hanya punya 2 anak dan keduanya masih kecil
sekali. Semoga bila ada kesempatan, bisa bertemu dengannya di lain waktu.
Bila dihitung-hitung, sudah hampir 4 tahun aku mengais ilmu di pondok pesantren Al hikmah 2, tapi kali ini aku berada di kelas yang berbeda, duduk di bangku yang berbeda, bertemu teman-teman yang berbeda pula. MAK Al hikmah 2, salah satu sekolah favorit tingkat SLTA di pondok kami. Alhamdulillah aku bisa masuk dan duduk berjejer dengan orang-orang yang luar biasa, pintar, cerdas dan kreatif, itulah mereka.
Bila dihitung-hitung, sudah hampir 4 tahun aku mengais ilmu di pondok pesantren Al hikmah 2, tapi kali ini aku berada di kelas yang berbeda, duduk di bangku yang berbeda, bertemu teman-teman yang berbeda pula. MAK Al hikmah 2, salah satu sekolah favorit tingkat SLTA di pondok kami. Alhamdulillah aku bisa masuk dan duduk berjejer dengan orang-orang yang luar biasa, pintar, cerdas dan kreatif, itulah mereka.
Setelah
3 tahun lamanya berada di SMP al hikmah 2, aku banting setir dari umum ke
jurusan keagamaan, masuk ke sekolah MAK, sekolahnya para calon kiyai (hehe) itu
sebutanku untuk sekolah ini. Bagaimana tidak??!!! Sudah sangat dikenal dan
masyhur di kalangan masyarakat desa, santri-santri dan siswa/i lain bahwa
murid-murid di sekolah ini berbicara dengan 2 bahasa asing tiap harinya, inggris
dan arab. Majalah-majalah bahasa inggris seperti kangguru dari australia dan kitab-kitab
kuning berbahasa arab menjadi santapan mereka tiap saat. Lulusannya pun bisa masuk ke universitas-universitas manca negara. Sebenarnya hanya mimpi
bagi diri ku tuk bisa ikut duduk berjejer bersama mereka. Boro-boro bisa bahasa
arab, nahwu sorof yang katanya itu dasarnya untuk bisa membaca kitab kuning saja
aku tak paham. Huruf pegon yang digunakan seluruh santri untuk memberikan makna pada kitab-kitab pengajian pesanten saja masih belum terlalu aku kuasai. Hanya berbekal bahasa inggris yang sudah aku pelajari sejak
kelas 3 SD, ku beranikan mengikuti ujian seleksi masuk sekolah ini saat awal
tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah ternyata rejeki ku akhirnya aku bisa ikut duduk berjejer dengan mereka,
belajar bersama dan tidur di kelas bersama (hehe).
Tapi ternyata, ini lah yang
membawa ku tuk mengenal lebih dekat sosok yang dahulu pernah menarik
perhatianku, si kerudung hijau. Pagi itu kelas kami kosong, tak ada pelajaran. Mungkin
karena sedang ada acara kumpulan para dewan guru yang menjadikan hampir tiap
kelas kosong, tak terkecuali kelas kami. Sesekali kupandang jendela kelas saat itu, bosan… itu yang sedang
ku rasakan. Ku beranikan diri tuk melangkahkan kaki ku keluar ruangan dengan
harapan bisa menghirup udara segar di luar kelas. Saat selangkah lagi kaki ini
sampai di luar pintu kelas, lewat sesosok perempuan yang tak pernah ku sangka
akan bertemu dengannya lagi, tepat lewat di hadapanku saat itu. Dengan mengenakan seragam
yang sama denganku dan berkerudung putih, ia berjalan bersama teman-temannya satu kelas
melewati kelas kami. Aku hanya bisa berdiri dan terdiam membisu seperti saat
melihatnya pertama kali ketika ia berjalan melewati ku.
“Mau pada kemana yah kakak-kakak
kelas kita?”, tanya salah seorang teman kelasku. sontak suara itu mengagetkan ku
yang sedang terdiam. “eh… kakak kelas?”, tanyaku sambil mengeryitkan dahi. “iya,
mereka kelas 1 kakak kelas kita”, jelasnya. Dengan wajah layu, ku pandangi
rombongan mereka yang satu persatu menghilang di tikungan menuju tangga lantai
bawah. “kakak kelas….”, lirihku dalam hati sambil menundukan kepala. Ini lah pertemuan kedua ku dengan
dirinya sejak setahun yang lalu dan mengantarkanku tuk mengenalnya lebih dekat.
Tak berakhir begitu saja, semakin
waktu berjalan aku semakin sering bertemu dengannya atau lebih tepatnya aku
lebih sering melihatnya. Karena aku yakin dia tidak mengenal diriku sama sekali
bahkan hanya sekedar melihat pun aku yakin tak pernah, apalagi dikenalnya. Sedikit
demi sedikit aku lebih mengenalnya, namanya dan siapa sebenarnya dia, yang tak lain ternyata ia adalah keponakannya
abah Mukhlas. Bagai seekor katak mengharapkan rembulan, aku berhenti
memandangnya. Tak pernah lagi aku cari tau tentang dirinya. Cukup sudah
perasaan yang dulu pernah mampir di hati ini. Aku tak pantas mengharapkannya,
aku merasa tak akan pernah menggapainya. Bagai sang katak mengharapkan sang rembulan
di malam hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar