Minggu, 01 Februari 2015

Bagai Sang Katak mengharapkan Sang Rembulan



Genap sudah setahun lebih aku tak tahu kabarnya si perempuan berkerudung hijau itu. Hanya satu pertemuan membuatku selalu memikirkannya. Pikirku, mungkin ia seorang abdi dalem abah Mukhlas, karena setahu ku abah mukhlas hanya punya 2 anak dan keduanya masih kecil sekali. Semoga bila ada kesempatan, bisa bertemu dengannya di lain waktu.


Bila dihitung-hitung, sudah hampir 4 tahun aku mengais ilmu di pondok pesantren Al hikmah 2, tapi kali ini aku berada di kelas yang berbeda, duduk di bangku yang berbeda, bertemu teman-teman yang berbeda pula. MAK Al hikmah 2, salah satu sekolah favorit tingkat SLTA di pondok kami. Alhamdulillah aku bisa masuk dan duduk berjejer dengan orang-orang yang luar biasa, pintar, cerdas dan kreatif, itulah mereka. 

Setelah 3 tahun lamanya berada di SMP al hikmah 2, aku banting setir dari umum ke jurusan keagamaan, masuk ke sekolah MAK, sekolahnya para calon kiyai (hehe) itu sebutanku untuk sekolah ini. Bagaimana tidak??!!! Sudah sangat dikenal dan masyhur di kalangan masyarakat desa, santri-santri dan siswa/i lain bahwa murid-murid di sekolah ini berbicara dengan 2 bahasa asing tiap harinya, inggris dan arab. Majalah-majalah bahasa inggris seperti kangguru dari australia dan kitab-kitab kuning berbahasa arab menjadi santapan mereka tiap saat. Lulusannya pun bisa masuk ke universitas-universitas manca negara. Sebenarnya hanya mimpi bagi diri ku tuk bisa ikut duduk berjejer bersama mereka. Boro-boro bisa bahasa arab, nahwu sorof yang katanya itu dasarnya untuk bisa membaca kitab kuning saja aku tak paham. Huruf pegon yang digunakan seluruh santri untuk memberikan makna pada kitab-kitab pengajian pesanten saja masih belum terlalu aku kuasai. Hanya berbekal bahasa inggris yang sudah aku pelajari sejak kelas 3 SD, ku beranikan mengikuti ujian seleksi masuk sekolah ini saat awal tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah ternyata rejeki ku akhirnya aku bisa ikut duduk berjejer dengan mereka, belajar bersama dan tidur di kelas bersama (hehe).

Tapi ternyata, ini lah yang membawa ku tuk mengenal lebih dekat sosok yang dahulu pernah menarik perhatianku, si kerudung hijau. Pagi itu kelas kami kosong, tak ada pelajaran. Mungkin karena sedang ada acara kumpulan para dewan guru yang menjadikan hampir tiap kelas kosong, tak terkecuali kelas kami. Sesekali kupandang  jendela kelas saat itu, bosan… itu yang sedang ku rasakan. Ku beranikan diri tuk melangkahkan kaki ku keluar ruangan dengan harapan bisa menghirup udara segar di luar kelas. Saat selangkah lagi kaki ini sampai di luar pintu kelas, lewat sesosok perempuan yang tak pernah ku sangka akan bertemu dengannya lagi, tepat lewat di hadapanku saat itu. Dengan mengenakan seragam yang sama denganku dan berkerudung putih, ia berjalan bersama teman-temannya satu kelas melewati kelas kami. Aku hanya bisa berdiri dan terdiam membisu seperti saat melihatnya pertama kali ketika ia berjalan melewati ku.

“Mau pada kemana yah kakak-kakak kelas kita?”, tanya salah seorang teman kelasku. sontak suara itu mengagetkan ku yang sedang terdiam. “eh… kakak kelas?”, tanyaku sambil mengeryitkan dahi. “iya, mereka kelas 1 kakak kelas kita”, jelasnya. Dengan wajah layu, ku pandangi rombongan mereka yang satu persatu menghilang di tikungan menuju tangga lantai bawah. “kakak kelas….”, lirihku dalam hati sambil menundukan kepala. Ini lah pertemuan kedua ku dengan dirinya sejak setahun yang lalu dan mengantarkanku tuk mengenalnya lebih dekat.

Tak berakhir begitu saja, semakin waktu berjalan aku semakin sering bertemu dengannya atau lebih tepatnya aku lebih sering melihatnya. Karena aku yakin dia tidak mengenal diriku sama sekali bahkan hanya sekedar melihat pun aku yakin tak pernah, apalagi dikenalnya. Sedikit demi sedikit aku lebih mengenalnya, namanya dan siapa sebenarnya dia, yang tak lain ternyata ia adalah keponakannya abah Mukhlas. Bagai seekor katak mengharapkan rembulan, aku berhenti memandangnya. Tak pernah lagi aku cari tau tentang dirinya. Cukup sudah perasaan yang dulu pernah mampir di hati ini. Aku tak pantas mengharapkannya, aku merasa tak akan pernah menggapainya. Bagai sang katak mengharapkan sang rembulan di malam hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar