Waktu tak pernah berhenti melaju, terus dan terus melangkah kedepan tak menghiraukan siapapun yang ia lewati. Kaya miskin, muda tua, orang baik ataupun orang jahat dan siapapun tanpa terkecuali ia lewati tanpa ada keraguan. Begitupun kehidupan ku ini, tak terasa sudah 2 tahun lebih aku merantau di negri orang. Negrinya para keturunan bangsa nabi Musa AS. dan raja fir’aun yang konon mayatnya masih utuh bersemayam di sebuah musium besar terkenal di negara ini, Mesir. Banyak hal terjadi selama 2 tahun terakhir ini, proses adaptasi yang cukup berat, kuliah yang cukup jauh saat tahun pertama, makan makanan orang daerah setempat yang rasanya tak terdefinisikan, kehilangan HP di bis bahkan sampai diusir pemilik rumah kontrakan saat terjadi revolusi mesir tanggal 27 januari 2011 lalu kalau tak salah, maklum aku tak pandai mengingat angka (hehe).
Jumat, 27 Februari 2015
Itu Seragam Buat Perjalanan Aja
Waktu tak pernah berhenti melaju, terus dan terus melangkah kedepan tak menghiraukan siapapun yang ia lewati. Kaya miskin, muda tua, orang baik ataupun orang jahat dan siapapun tanpa terkecuali ia lewati tanpa ada keraguan. Begitupun kehidupan ku ini, tak terasa sudah 2 tahun lebih aku merantau di negri orang. Negrinya para keturunan bangsa nabi Musa AS. dan raja fir’aun yang konon mayatnya masih utuh bersemayam di sebuah musium besar terkenal di negara ini, Mesir. Banyak hal terjadi selama 2 tahun terakhir ini, proses adaptasi yang cukup berat, kuliah yang cukup jauh saat tahun pertama, makan makanan orang daerah setempat yang rasanya tak terdefinisikan, kehilangan HP di bis bahkan sampai diusir pemilik rumah kontrakan saat terjadi revolusi mesir tanggal 27 januari 2011 lalu kalau tak salah, maklum aku tak pandai mengingat angka (hehe).
Selasa, 24 Februari 2015
Seperti Kemarin
Seperti kemarin
Ya rasanya seperti kemarin aku mengenalmu yang kaku
Membuka hatiku dan mempersilahkanmu mengisinya
Merasakan cinta yang kau tanam dalam hati ini
Melihat kesungguhanmu dan keyakinanmu
Minggu, 22 Februari 2015
Kita, Part I
Idul Fitri selalu menjadi bulan
yang aku tunggu. Satu-satunya bulan yang mengumpulkan seluruh keluargaku yang
terpisah, tanpa harus ada yang sakit, tanpa harus ada acara besar. Idul Fitri,
selalu menjadi kenangan, kenangan bahagia masa kecilku yang tak akan pernah
terulang, kenangan menggetirkan tentang “hampir kehilangan mama” –orang yang
paling aku sayangi, kenangan mengharukan pertemuan sekaligus perpisahan sanak
saudara, kenangan menyenangkan memiliki uang banyak –karena hanya di bulan ini
aku bebas membeli jajan yang kusuka (hehe)- . Ya, aku selalu tak pernah
kehabisan kata untuk menggambarkan Idul Fitri, karena sebagian besar pahit
manis kehidupanku terjadi di bulan ini. Karena setiap idul Fitri aku
merasa.....”aku telah lama menghuni bumi tua ini”.
Minggu, 15 Februari 2015
Kapan aku bisa bertemu dengannya?
Setiap hujan turun aku amati rintiknya, gemricik airnya, ceria suaranya, aku berharap air membawakan salam rindunya untukku
Setiap angin berdesir, aku rasakan gerakan pepohonan, lambaian jilbab yang kukenakan, dingin yang menyentuh kulitku. Angin.... apakah kau bisa membawanya untukku? setidaknya, katakan padanya aku di sini menunggunya
Sabtu, 07 Februari 2015
Lulu Khumaeroh, Nama Ini Tak Kan Terlupakan
Sore itu mendung, tampak sebentar
lagi akan turun hujan. Langit tampak mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala
satu persatu. Aku berdiri terdiam tepat di depan GOR Al Hikmah 2, memandang ke
langit, melihat sekeliling ku. Tanah ini akan menjadi sejarah, sejarah hidupku.
Serasa semua kenangan selama 7 tahun ini kembali datang memenuhi hati dan
pikiranku, ''pasti akan ku rindukan tempat ini'', batinku. Di depan mesjid An Nur, mesjid
bersejarah dan penuh kenangan buat ku selama 7 tahun disini, ku lihat
mobil avanza berwana putih, mobil yang papa sewa untuk menjemputku dari pondok.
Karena kami tidak punya mobil, papa khusus menyewa mobil untuk menjemput ku
sebab buku-buku ku cukup banyak dan bila diangkut dengan sepeda motor bisa sangat merepotkan. Tak jauh dari mobil itu ku lihat keluargaku yang sedang
berkumpul di teras mesjid, terlihat ibu ku yang sejak tadi siang memeluk ade ku yang akan ditinggal
selepasnya kami pergi dari pondok ini.
Minggu, 01 Februari 2015
Bagai Sang Katak mengharapkan Sang Rembulan
Genap sudah setahun lebih aku tak
tahu kabarnya si perempuan berkerudung hijau itu. Hanya satu pertemuan
membuatku selalu memikirkannya. Pikirku, mungkin ia seorang abdi dalem abah Mukhlas,
karena setahu ku abah mukhlas hanya punya 2 anak dan keduanya masih kecil
sekali. Semoga bila ada kesempatan, bisa bertemu dengannya di lain waktu.
Engkau, Hujanku
Aku bahagia bermain dengan hujan
Merasakan ramahnya air menyentuh kulitku
Sendunya langit yang mendamaikan
Rintik airnya yang berirama
Sambutan tanah yang bergairah
Indah
Sungguh indah
Langganan:
Komentar (Atom)



