Sabtu, 31 Januari 2015

Langitku, Aku penggilamu




Aku, Si Penggila Langit
Beserta seluruh isinya, beserta seluruh hiasannya
Beserta Matahari yang sinarnya selalu ikhlas
Beserta Bulan yang cahanya menakjubkan
Beserta bintang yang kerlipnya mewarnai gelap
Beserta gelap yang setia pada malam
Beserta awan yang meneduhkan
Beserta hujan yang menghidupkan
Beserta petir yang gagah dan membangkitkan
Beserta birumu yang menyejukan

Si Kerudung Hijau

''Troeeet.... troeeet.... troeet..... troeeet.....'', terdengar bunyi terompet-terompet memekakkan telinga seraya memanggil tiap orang yang mendengarnya. Sontak seketika itu juga orang-orang ramai berkumpul di sepanjang pinggir jalan desa Benda, nama desa Pondok Pesantrenku. Aku dan puluhan santri yang saat itu sedang asyik-asyiknya menyantap makan sore kami di warben (warung benda-red) tak kalah penasarannya dengan penduduk desa yang saat itu ikut berkerubung memadati pinggir jalan. Dalam benak kami hanya terpikirkan 'apa gerangan bunyi-bunyi itu?'. Sebuah becak berisikan seorang pria dan wanita paruh baya duduk sambil tersenyum ke kanan dan ke kiri diiringi sekelompok orang yang membentuk sebuah formasi di tengah jalan sambil berjalan sedikit demi sedikit seakan mengatakan pada kami yang menonton mereka 'lihatlah kami'.