Aku terbangun dari tidur siangku, Mataku tak lekat dari layar
laptopku. Kulihat kau yang masih terlelap. Kedua tanganmu kau letakan di bawah
kepalamu, Itu gaya kesukaanmu sewaktu tidur, sama sepertiku.
Terdengar suara adzan Ashar yang begitu syahdu dari mushola Al furqon yang terletak persis depan
kamarku. Suara adzan bukanlah hal yang asing bagiku. Setiap hari aku bisa
mendengarkannya. Tapi entah mengapa, Adzan kali ini benar – benar menusuk
hatiku. Tak terasa air mata menetes deras. Tiba tiba tergambar jelas wajah bapa
dan ibuku yang sangat kucintai lebih dari apapun di dunia ini. Terbayang wajah
tua dan lelah bapa, tangan kasarnya, kulitnya yang hitam terbakar matahari. Ubanya yang mulai menyeluruh. Tatapan matanya yang
begitu dalam. Kata - katanya yang begitu keramat
bagiku. Kakinya yang penuh dengan
kapal melangkah demi masa depan anak anaknya. Ingatannya yang mulai memudar
termakan usia. Ia tak pernah meminta apapun dari kami anak anaknya, ia tak
pernah menuntut apapun. ia tak pernah mengeluhkan apapun. walaupun aku tau, begitu
besar harapannya padaku pada kami, begitu tinggi cita citanya agar aku
lanjutkan. Ia utarakan dalam diam dan doa.