Minggu, 05 April 2015

Adzan Asharku



Aku terbangun dari tidur siangku, Mataku tak lekat dari layar laptopku. Kulihat kau yang masih terlelap. Kedua tanganmu kau letakan di bawah kepalamu, Itu gaya kesukaanmu sewaktu tidur, sama sepertiku.

Terdengar suara adzan Ashar yang begitu syahdu dari  mushola Al furqon yang terletak persis depan kamarku. Suara adzan bukanlah hal yang asing bagiku. Setiap hari aku bisa mendengarkannya. Tapi entah mengapa, Adzan kali ini benar – benar menusuk hatiku. Tak terasa air mata menetes deras. Tiba tiba tergambar jelas wajah bapa dan ibuku yang sangat kucintai lebih dari apapun di dunia ini. Terbayang wajah tua dan lelah bapa, tangan kasarnya, kulitnya yang hitam terbakar matahari. Ubanya yang mulai menyeluruh. Tatapan matanya yang begitu dalam. Kata - katanya yang begitu keramat bagiku. Kakinya yang penuh dengan kapal melangkah demi masa depan anak anaknya. Ingatannya yang mulai memudar termakan usia. Ia tak pernah meminta apapun dari kami anak anaknya, ia tak pernah menuntut apapun. ia tak pernah mengeluhkan apapun. walaupun aku tau, begitu besar harapannya padaku pada kami, begitu tinggi cita citanya agar aku lanjutkan. Ia utarakan dalam diam dan doa.